Senin, 19 Desember 2011

Aku yang Salah (cerpen 1)


                                                AKU YANG SALAH
            Dia memang orang yang tertutup,bahkan sangat tertutup,tetapi aku bisa sedikit masuk lewat pintu hatinya yang sedikit renggang. Walau susah akhirnya yang dia mau menceritakan masalahnya kepadaku,dan meminta aku merahasiakan hal itu.
            “kamu malu ya?” tanyaku waktu itu.
            “Tidak. Aku tidak malu,aku cuma tidak mau dikasihani orang lain dan diberi perhatian khusus,aku ingin biasa saja.” jawabnya dengan wajah tak bergeming.”Aku masih bisa hidup walau bagaimanapun caranya.”
            “Iya,tenang aja aku pasti menyimpan rahasia ini.” Aku mencoba untuk mengerti dia.
            “terima kasih Wit,”katanya lagi. Aku hanya mengangguk. “Tapi kenapa kamu sering tidak masuk sekolah?”
            “Aku tidak semangat ke sekolah.”
            “Tidak semangat? Seharusnya kamu itu semangat ke sekolah. Siapa tahu kekosonganmu akan terisi dengan adanya kegiatan-kegiatan di sekolah.”
            “Entahlah.” Dia melenguh. Tidak ada yang bicara lagi. Bel tanda waktu istirahat selesai berbunyi. Semua kembali ke kelas. Aku duduk di tempat dudukku.
Tak terasa sudah enam bulan aku duduk di kelas XII,waktu pembagian rapor pun tiba. Tapi satu orang yang tidak datang mengambil rapor,yaitu Ruli. Apa anak itu masih natalan? Pikirku. Padahal aku sudah memberitahu dia bahwa hari ini pembagian rapor.Ternyata dia tidak datang juga.
            “Le,Ruli ke mana sih?”tanyaku kepada Sule setelah pembagian rapor.
            “Nggak tau,sejak dua hari kebelakangan ‘ni HP-nya tidak aktif. Aku takut terjadi apa-apa sama dia.”
            “Maksud kamu?”
“Iyalah,kemarin katanya dia sakit,jadi takut aja ada apa-apa.”
Aku tidak menjawab lagi,pikiranku hanyut entah ke mana. Ada apa lagi dengan Ruli? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah pulang dari rumah neneknya? Berbagai pertanyaan berlomba-lomba masuk kebenakku. Sayangnya,satupun tidak terjawab. Pikiranku berkecamuk.
Libur  semester ganjil telah usai. Semua siswa kembali ke sekolah. Ada dengan wajah gembira,ada juga dengan wajah kusut,mungkin belum puas mengokol di tempat tidur. Sedang aku sangat senang kembali ke sekolah apalagi hari senin ini kami akan diberi sarapan pagi yang enak,sarapan Fisika. Mata pelajaran yang sangat aku sukai di kelas XII,dan aku ingin sekali bertemu dengan Ruli,ingin tahu keadaannya. Dan ingin melihat keceriaan sebenar di wajahnya bukan kepura-puraan yang selalu disebarkannya.
Tetapi hari ini masih juga belum aku temukan sesosok Ruli di dalam kelas. Mataku liar memandang seluruh penjuru sekolah,tidak juga kutemukan. Dia memang tak datang lagi. Sudah dua minggu berlalu,Ruli belum juga tampak.
“Le,tahu nggak di mana Ruli? Sudah dua minggu belum masuk juga. Biasanyakan kamu selalu sms-an ma dia.”
“Tidak.Udah lama aku tidak menghubungi dia. Kamu kenapa sih Wit,nanya Ruli mulu?”
Nggak apa-apa sih,aku ‘kan sekretaris,jadi aku harus tahu keterangan setiap siswa yang tidak hadir,”jawabku sekenanya. Ada keraguan di wajah Sule. Aku tak peduli. Jam pelajaran keempat telah berlangsung selama satu jam pelajaran,Kepsek masuk ke kelas kami. Semua diam. Kepsek yang satu ini memang ditakuti semua siswa,tapi tidak untukku. Aku hanya segan kepadanya.
“Rudi sudah masuk?”tanyanya tegas.
“Belum buk!” jawab kami serentak.
Aku mengacungkan tangan agar tidak terjadi kekecohan.Kepsek memandang ke arahku meminta jawaban.
“Tidak tahu Buk,karena dia tidak tinggal di rumahnya,”jawabku.
“Orang tuanya?”
“Katanya mereka sudah berpisah dan tidak tinggal bersama lagi.”
“Pendidikan itu penting untuk masa depan,jadi jangan menyia-nyiakan pendidikan selama ada kesempatan,”nasehatnya kepada kami. Dia pun berlalu. Ica dan Rozal memandangku dengan tatapan tajam.
“Kenapa?”tanyaku heran.
“Mengapa kamu membuka rahasia Ruli?”tanya Rozal. “Kalau dia tahu kami pun akan dipersalahkan,”sambungnya.
Lama aku berfikir rahasia mana yang aku buka,baru aku ingat dengan perkataanku kepada Kepsek tadi,”berpisah”.
“Ya Tuhan,aku lupa. Sumpah! aku tak sengaja dan sama sekali tidak berniat membuka hal itu. Maafkan aku,sungguh aku tak sengaja,”kataku menyesal. Selain aku,Ica dan Rozal juga tahu masalah Ruli.
“Kenapa kamu minta maaf kepada kami,minta maaflah kepada Ruli,”kata Rozal.
Mulai sangat itu hatiku sungguh resah,rasa bersalah terus menghantui. Mau minta maaf,aku tidak tahu Ruli di mana sekarang. Aku takut dia membenciku. Aku tak mau menambah satu orang lagi yang membenciku,seperti Yuda dan Resa. Sudah banyak kali aku SMS Ruli tapi tidak ada balasan. Perasaan ini benar-benar mendera.
                                                                 ***
Langkahnya gontai,menunduk,terkeseng-keseng.Sudah dua minggu dia tidak muncul,baru sekarang menampakkan hidungnya.Mungkin anginnya mulai membaik. Dia langsung menuju tempat duduknya di ujung sudut kelas. Masih menunduk. Entah apa dalam pikirannya,semua tidak tahu.Memang orang lain tidak peduli dengannya,mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya aku dan Sule yang selalu bertanya keadaannya.Sebenarnya dari pertama aku melihat dia di rumah temanku,aku sudah mulai ingin tahu tentangnya. Apa yang menarik tentangnya akku tak tahu,yang aku tahu dia tengah sendiri. Dan aku telah menghancurkan kepercayaan yang diberikannya.
Tiga hari telah berlalu perasaan takutku masih mencengkam,terus mengalahkan keberanianku untuk bicara langsunng dengan Ruli.Menjelaskan semua tapi untuk bertemu denganya saja aku takut,takut sekali.Apalagi sejak dia masuk sekolah tidak pernah sekalipun dia menegur bahkan melihatku pun tidak. Sampai guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas.
“Hari ini Bapak ingin kalian semua untuk menulis pengalaman masing-masing,”Pak Santoso membuka pertemuan kali ini. “Tapi Bapak mau satu orang ke depan untuk menceritakan pengalamannya.”
Hening. Semua bungkam. Tidak ada yang bersuara. Kelas yang aku duduki sekarang memang seperti itu,bila disuruh bicara dia diam tapi bila disuruh diam bicara. Sungguh memuakkan. Aku mengangkat tangan.
“Baiklah,Wati maju ke depan.” Aku melangkah ke depan kelas. Ada rasa gentar juga ditatapi oleh tiga puluh pasang mata.
“Ayahku meninggal dunia ketika aku masih terlalu kecil,”kataku mengawali cerita. Tidak ada yang bersuara. Ruli tidak melihat ke arahku. Dia masih menunduk.
“Ibu yang membesarkan kami anak-anaknya. Ketika SD aku tidak pernah merasakan yang namanya seragam baru. Semua bekas. Aku tidak pernah mengeluh,yang penting aku bisa sekolah. Di SMP aku membiayai sekolahku sendiri melalui bantuan beasiswa untuk siswa yang berprestasi. Begitu juga di SMA. Aku selalu ditinggal sendiri di rumah,ibu dan kakak sering pergi. Ibu selalu berkata bahwa aku memang dibiatkan belajar hidup mandiri. Walaupun aku tidak makan,tapi aku harus sekolah. Itulah yang aku pertahankan. Masalah? Memang harus dimiliki oleh setiap insan agar bisa mengembangkan pola pikir kita. Kalau masalah keluarga,aku rasa keluargaku yang paling parah,kecoh. Setiap hari pasti ada pertengkaran,adu mulut,menangis. Sepertinya bagi mereka tiada hari tanpa bertengkar. Kadang aku berpikir untuk pergi dari rumah dan kota ini. Tapi ketika aku berpikir ulang,kalau aku pergi maka sekolahku akan terbengkalai,dan perjalananku sejauh ini akan sia-sia. Makanya aku masih bertahan sampai detik ini.”
Aku menutup cerita. Aku kembali ke bangku. Sebenarnya aku ingin Ruli sadar bahwa hidup ini memang susah,tapi harus dihadapi dan dijalani,karena disetiap langkah kita selalu disirami dengan kasih sayang yang abadi yaitu kasih sayang Tuhan. Bagiku,kenyataan itu pengajaran. Belajar menghadapi kenyataan berarti belajar menikmati hidup. Kalau bagi orang lain hanya dua kata yang ingin aku ucapkan,”pata nahin”.

Karya: Lidya A.Tina
Bengkalis,Januari 2010
                                                  
            

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak anda.

Template by:

Free Blog Templates